Pada hari Senin, sebuah pengadilan di Bangladesh memerintahkan penyelidikan terhadap mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina dan enam tokoh tinggi dalam pemerintahannya. Mereka dituduh bertanggung jawab atas kematian seorang pemilik toko yang tewas saat kerusuhan sipil pecah di Dhaka, ibu kota Bangladesh.
Kematian pemilik toko tersebut terjadi pada 19 Juli, ketika polisi menggunakan kekuatan berlebihan untuk membubarkan protes. Banyak warga yang tidak puas dengan tindakan keras tersebut, menganggapnya tidak adil dan tidak manusiawi.
Menurut laporan dari surat kabar The Daily Star, pengaduan ini diajukan oleh Amir Hamza, seorang warga yang tinggal di dekat lokasi kejadian dan dikenal sebagai "sahabat" sang korban. Kasus ini menunjukkan adanya keprihatinan masyarakat yang mendalam terhadap situasi keamanan di negara tersebut.
Pengacara Hamza menyatakan bahwa Pengadilan Metropolitan Dhaka telah memerintahkan polisi untuk menerima “kasus pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh.” Langkah ini merupakan langkah awal dalam proses penyelidikan kriminal sesuai dengan hukum Bangladesh.
Sheikh Hasina, yang merupakan pemimpin politik terkemuka di negara itu, pernah mengalami masa sulit di mana ia terpaksa mundur dari jabatannya dan meninggalkan Bangladesh setelah protes mahasiswa terjadi secara meluas. Protes tersebut mengakibatkan sedikitnya 300 orang kehilangan nyawa.
Penyelidikan ini diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai peristiwa tragis tersebut dan membawa keadilan bagi keluarga korban.
