Sinar matahari pagi menyinari wajah-wajah ceria masyarakat Kampung Poumako di Distrik Mimika Timur, Provinsi Papua Tengah. Warga setempat, yang memiliki semangat juang tinggi, bersiap menjalani aktivitas harian mereka. Hari ini, mereka meninggalkan rumah-rumah sederhana yang mereka huni untuk mencari kepiting, salah satu komoditas andalan mereka.
Kampung Poumako dihuni oleh Suku Kamoro, suku asli yang tinggal di pesisir Kabupaten Mimika. Wilayah ini kaya akan sumber daya laut, terutama kepiting bakau. Kepiting bakau adalah sejenis kepiting yang hidup di lingkungan mangrove dan dikenal karena dagingnya yang lezat serta memiliki nilai jual tinggi.
Dengan letaknya yang strategis, Kampung Poumako memiliki Pelabuhan Rakyat dan Pelabuhan Perikanan. Hal ini memungkinkan warga untuk mengoptimalkan potensi daerah mereka, sehingga dapat mendukung perekonomian wilayah pesisir. Warga Kampung Poumako dapat menjual hasil tangkapan mereka tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga di pasar yang lebih luas.
Untuk mencapai Kampung Poumako, dari pusat Kota Timika, tersedia akses yang cukup baik menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jarak dari Distrik Mimika Baru hingga Pelabuhan Kampung Poumako adalah sekitar 45 kilometer. Perjalanan ini biasanya memakan waktu sekitar dua jam, dengan pemandangan alam yang indah di sepanjang jalan.
Di dalam Kampung Poumako, suasana kehidupan sehari-hari dapat terlihat. Masyarakat berjalan kaki sambil membawa noken, tas khas Papua, serta memegang parang dan ember. Aktivitas mereka terlihat saat pergi mencari kepiting di hutan mangrove sekitar. Kehidupan mereka tampak penuh semangat, dengan cita-cita untuk meningkatkan kesejahteraan melalui sumber daya alam yang ada.
Cerita kehidupan di Kampung Poumako menunjukkan bagaimana warga berjuang untuk mencari nafkah dengan cara yang berkelanjutan. Mereka bukan hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga berupaya meningkatkan kualitas hidup mereka melalui pengolahan potensi laut yang ada.
