Pelari maraton asal Belanda, Sifan Hassan, berhasil meraih medali emas terakhir di Olimpiade Paris 2024. Keberhasilan ini semakin istimewa karena dia mengenakan hijab saat perlombaan. Hijab adalah penutup kepala yang dikenakan oleh perempuan Muslim sebagai bentuk simbol keimanan dan kesopanan.
Namun, keputusan Hassan untuk mengenakan hijab ini muncul di tengah kontroversi. Perancis, negara yang menjadi tuan rumah Olimpiade, telah melarang atletnya untuk mengenakan hijab selama acara berlangsung. Menteri Olahraga Perancis menyatakan bahwa larangan ini mengikuti prinsip sekularisme yang diterapkan di negara tersebut. Sekularisme adalah paham yang memisahkan urusan agama dari urusan pemerintahan dan publik.
Larangan ini mendapat kritik dari Kantor Hak Asasi Manusia PBB. Mereka berpendapat bahwa setiap individu seharusnya memiliki hak untuk mengekspresikan kepercayaan dan identitas mereka. Komite Olimpiade Internasional juga mengkonfirmasi bahwa mengenakan hijab diperbolehkan di dalam kawasan atlet Olympic Village.
Hassan, yang berusia 31 tahun, tidak hanya berhasil meraih emas di maraton wanita dengan penyelesaian akhir yang sangat mendebarkan, tetapi juga mengantongi medali perunggu di nomor 5.000 meter dan 10.000 meter. Pencapaian ini menunjukan kepiawaian serta ketahanan Hassan sebagai seorang atlet di panggung dunia.
Keputusan dan keberanian Sifan Hassan untuk mengenakan hijab pada saat yang kritis ini menjadi simbol akan pentingnya kebebasan berekspresi di arena olahraga global. Kemenangan Hassan tidak hanya berarti medali, tetapi juga menunjukkan keberagaman dan penerimaan dalam ajang dunia seperti Olimpiade.
