Malam perlahan turun di Desa Bancangan, Kecamatan Sambit, pada hari Kamis, 22 Mei 2025. Dalam kegelapan malam, cahaya obor yang dibawa oleh warga desa menerangi jalan. Suasana tenang menyelimuti desa, hanya terdengar suara langkah kaki dan nyala obor yang berkilauan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Kirab Sedekah Bumi dan Ziarah Leluhur, sebuah ritual bersih desa yang telah dilakukan selama tiga tahun berturut-turut. Tradisi ini tidak hanya menjadi momen ibadah, tetapi juga memperkuat ikatan antarwarga dengan budaya dan akar tanah kelahiran mereka.
Bupati Sugiri Sancoko turut hadir pada acara tersebut. Ia berjalan kaki dari Mushola Mazro’atul Ulum menuju makam Eyang Tengger yang terletak di puncak Bukit Tengger. Di sana, doa dipanjatkan untuk para leluhur yang telah memberikan nilai-nilai kehidupan bagi masyarakat Bancangan.
Setelah ziarah, gunungan hasil bumi yang diarak sebelumnya “dipurak.” Proses ini melibatkan warga untuk memperbutkan hasil bumi yang kemudian dibagikan kepada mereka. Tradisi ini merupakan ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan oleh Tuhan selama ini.
Bupati Sugiri Sancoko berharap agar tradisi Kirab Sedekah Bumi dan Ziarah Leluhur dapat terus dilaksanakan. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur. “Tradisi ini diharapkan dapat menanamkan nilai, tata krama, serta kehalusan sikap kepada generasi muda,” katanya.
Menurut Bupati, penting bagi generasi mendatang untuk mengenal asal usul mereka dan melestarikan budaya yang telah ada. Ia menambahkan, "Sudah tiga tahun kegiatan ini berjalan. Semoga terus berlanjut, agar anak cucu kita kelak mampu bersikap budaya, takdzim, alus, dan bisa mengembangkan kekayaan budaya yang kita miliki."
Dengan demikian, Kirab Sedekah Bumi dan Ziarah Leluhur di Desa Bancangan tidak hanya menampilkan kekayaan budaya, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan spiritual dalam komunitas.
