Kebocoran gas H2S yang berulang kali terjadi di sekitar proyek panas bumi PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) menyebabkan kecemasan di kalangan warga. Gas hidrogen sulfida (H2S) adalah gas beracun yang dapat membahayakan nyawa manusia. Beberapa insiden kebocoran ini telah menewaskan beberapa orang dan membuat ratusan lainnya dirawat di rumah sakit. Kejadian ini menandakan adanya masalah serius dalam operasi panas bumi yang seharusnya aman.
Situasi semakin buruk ketika semburan lumpur panas muncul di lahan pertanian warga, tepat di sekitar wilayah pengeboran. Lumpur panas ini tidak hanya merusak lahan pertanian, tetapi juga menambah daftar ancaman bagi keselamatan dan mata pencaharian masyarakat. Semburan lumpur panas biasanya terjadi ketika tekanan geotermal dalam bumi meningkat, menyebabkan cairan panas keluar ke permukaan.
Meski begitu, niat pemerintah untuk meneruskan proyek panas bumi ini tampak tidak terpengaruh. Bahkan, pemerintah mempromosikan proyek ini di forum internasional seperti Asian Zero Emissions Community (AZEC), yang didukung oleh Jepang. Forum ini bertujuan untuk menarik investasi dalam pengembangan energi rendah karbon.
Namun, banyak warga yang merasa tertekan oleh tindakan yang diambil oleh pihak berwenang. Praktik intimidasi dan kekerasan sering kali muncul terhadap mereka yang ingin mempertahankan ruang hidupnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang hak masyarakat dalam menentukan nasibnya sendiri di tengah-tengah proyek ekstraktif yang merugikan.
Untuk membahas lebih dalam mengenai bahaya dan dampak dari pengembangan energi panas bumi, sebuah diskusi akan diadakan dengan topik "Pembangkit Energi Rendah Karbon Tinggi Korban - Tumbal Transisi Energi Panas Bumi." Diskusi ini akan dilaksanakan pada:
Tanggal: Selasa, 20 Mei 2025
Waktu: 19.00 WIB - Selesai
Tempat: Zoom
Diskusi ini akan dihadiri oleh beberapa warga dari daerah yang terkena dampak, di antaranya Ahmad Roihan, Andi Saut Halomoan, Cece Jaelani, Ega Susmita, dan Servasius Masyudi. Moderator diskusi adalah Alfarhat Kasman dari JATAM.
Melalui diskusi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami bahaya yang mengintai serta mendorong perlunya prinsip keamanan dan hak asasi manusia dalam setiap proyek energi yang berjalan.
