Presiden Brasil, Lula da Silva, telah mengumumkan hari berkabung nasional selama tiga hari setelah tragedi kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa 62 orang. Kecelakaan ini terjadi di negara bagian São Paulo pada hari Jumat yang lalu.
Pesawat tersebut mengalami kecelakaan di wilayah Vinhedo saat seluruh penumpang dan kru berada di dalam pesawat. Bandara lokal yang mengoperasikan pesawat, Voepass, mengonfirmasi bahwa tidak ada yang selamat dari insiden tersebut. Kejadian ini menjadi kecelakaan pesawat terburuk secara global sejak Januari 2023, di mana 72 orang juga tewas dalam kecelakaan pesawat Yeti Airlines di Nepal.
Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan ini adalah ATR 72-500, yang tengah terbang dari Cascavel, yang terletak di negara bagian Paraná, menuju bandara internasional Guarulhos di São Paulo. Menurut laporan, para saksi melihat pesawat berputar sebelum terjun secara vertikal dan akhirnya jatuh ke permukaan tanah di dalam sebuah komunitas berpagar, menjadikannya rusak parah dan terbakar. Beruntung, tidak ada cedera dilaporkan di lokasi darat di sekitar lokasi kecelakaan.
Pihak berwenang Brasil saat ini masih menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut. Sampai saat ini, belum ada bukti bahwa pilot menghubungi pihak berwenang untuk meminta bantuan atau melaporkan kondisi cuaca buruk sebelum kecelakaan. Angkatan Udara Brasil menyatakan bahwa mereka telah mengambil kotak hitam, yang berisi perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan, untuk dianalisis secepatnya.
Tragedi ini menunjukkan betapa pentingnya keselamatan penerbangan dan akan menjadi fokus perhatian bagi pihak berwenang Brasil dalam waktu dekat.
