Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Israel Cabut Status Diplomatik Utusan Norwegia atas Tindakan Anti-Israel

Pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, mengumumkan bahwa status diplomatik utusan Norwegia untuk Otoritas Palestina akan dicabut. Keputusan ini diambil sebagai respons atas apa yang dianggapnya sebagai “perilaku anti-Israel” dari Norwegia sejak terjadinya perang di Gaza pada bulan Oktober lalu.

Katz menyatakan, “Saya telah memerintahkan penghentian semua perwakilan dari Kedutaan Norwegia di Israel yang berhubungan dengan Otoritas Palestina.” Pernyataan ini menunjukkan ketegangan yang meningkat antara Israel dan Norwegia terkait sikap diplomatik Norwegia yang mendukung Palestina.

Norwegia baru-baru ini mengakui status negara Palestina dan mendukung kasus di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang melibatkan pemimpin Israel dalam dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Katz menambahkan, “Ada harga yang harus dibayar untuk perilaku anti-Israel.”

Sebagai bagian dari proses pencabutan status, duta besar Norwegia dipanggil ke kementerian luar negeri Israel di Yerusalem. Ia diinformasikan bahwa para diplomat Norwegia akan kehilangan akreditasi mereka tujuh hari setelah pengumuman itu, dan visa mereka akan dicabut dalam waktu tiga bulan.

Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, menganggap keputusan Israel ini sebagai “tindakan ekstrem” yang akan berakibat pada hubungan antara Norwegia dan pemerintah Netanyahu. Eide mengatakan, “Keputusan hari ini akan memiliki konsekuensi bagi hubungan kami dengan pemerintah Netanyahu. Kami sedang mempertimbangkan langkah-langkah balasan yang akan diambil Norwegia terhadap situasi yang diciptakan oleh pemerintah Netanyahu.”

Keputusan ini menunjukkan betapa rumitnya hubungan internasional yang melibatkan Israel dan Palestina, serta pentingnya diplomasi dalam menyelesaikan konflik yang berkepanjangan.