Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Pawai Ogoh-Ogoh di Pasuruan Sambut Hari Suci Nyepi

Warga Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, melaksanakan Pawai Ogoh-Ogoh dengan semarak sebagai bentuk penyambutan Hari Suci Nyepi Tahun Baru 1947 Saka Tahun 2025. Pawai ini diadakan pada hari Jumat, 28 Maret 2025, dan dimulai dengan Upacara Tawur Agung yang memiliki tema "Manawasewa, Madawasewa, Menuju Indonesia Emas 2045". Acara ini berlangsung di Rest Area Desa Tosari.

Menariknya, pawai ini juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. Emil datang bersama istri, Arumi Bachsin, serta anak-anak mereka. Dalam acara tersebut, Emil secara resmi melepas pawai Ogoh-Ogoh yang ditandai dengan pemukulan gong. Kegiatan ini membuat suasana semakin meriah, diiringi sorak-sorai masyarakat yang menantikan prosesi tersebut.

Dalam sambutannya, Emil Dardak mengucapkan selamat Hari Suci Nyepi kepada seluruh umat Hindu di Jawa Timur. Ia menyampaikan bahwa Hari Suci Nyepi menjadi saat yang penting bagi umat Hindu untuk mencari dan memperkuat jati diri mereka beragama. "Momen ini adalah waktu yang tepat untuk merenung, merayakan ketenangan, dan introspeksi diri," ujar Emil.

Emil juga menekankan bahwa perayaan ini istimewa karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriyah. Ia menjelaskan bahwa esensi dari Hari Nyepi adalah saat di mana umat Hindu memadamkan cahaya dan membatasi aktivitas fisik sebagai bentuk penghormatan terhadap alam semesta dan diri sendiri.

Wakil Gubernur Jawa Timur itu mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momen ini dengan baik. Ia menekankan pentingnya kontemplasi dan memperkuat hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. “Gunakan kesempatan ini untuk berdamai dengan diri sendiri,” tambahnya.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Emil Dardak menerangkan bahwa umat Hindu menjalani empat pantangan atau catur berata saat Hari Raya Nyepi. Pantangan tersebut mencakup amati lelunganan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak berbicara), amati karya (tidak bekerja), dan amati geni (tidak menyalakan api). Hal ini dilakukan sebagai bagian dari latihan disiplin yang sesuai dengan ajaran agama Hindu.