Di Kabupaten Ponorogo, terdapat contoh yang baik tentang bagaimana agama dan budaya dapat hidup berdampingan. Ini menjadikan Ponorogo sebagai tempat yang ideal untuk melihat harmonisasi tersebut. Harmoni antara budaya dan agama pun menjadi dasar dalam setiap pembangunan yang ada di wilayah ini.
Akhir pekan lalu, tepatnya pada tanggal 15 Maret 2025, Ponorogo menggelar acara “Tadarus Budaya” yang berlangsung di Jl. Alun-alun Utara. Acara ini diadakan pada hari ke-15 Ramadan 1446 H. Lebih dari 60 grup reog, yang merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Ponorogo, ikut serta dalam pertunjukan ini. Dari jumlah tersebut, 19 grup datang dari luar kota, menambahkan suasana meriah dan menarik perhatian ribuan masyarakat yang menyaksikan pertunjukan.
Acara Tadarus Budaya dimulai dengan doa bersama dan tausiyah atau ceramah yang berkaitan dengan Ramadan. Ini menggarisbawahi pentingnya nilai-nilai keislaman yang selaras dengan pelestarian budaya lokal. Kang Bupati Ponorogo memberikan pernyataan yang menyoroti makna acara tersebut. “Tadarus budaya menunjukkan perpaduan dua kekuatan yang dahsyat, santri dan budaya yang hari ini ditunjukan dengan tadarus budaya di Ramadhan yang ke-15,” ucapnya.
Kang Bupati menambahkan, tujuan dari Tadarus Budaya ini adalah untuk merayakan keberhasilan Ponorogo yang telah diakui Reog sebagai Warisan Budaya Tak Benda dunia oleh UNESCO. “Perjuangan para seniman sangat luar biasa, mampu menghantarkan reog diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia pada Desember 2024 lalu,” terang Kang Bupati.
Dengan adanya acara ini, diharapkan masyarakat dapat lebih menghargai kekayaan budaya daerah mereka sambil tetap menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
