Sebuah laporan dari YouGov menunjukkan bahwa sepertiga masyarakat Inggris mendukung protes anti-imigrasi yang telah berkembang menjadi kerusuhan kekerasan di berbagai kota di Inggris. Menurut survei, tujuh persen responden mengaku mendukung kekerasan yang bernuansa Islamofobia dan rasis ini.
Protes ini dimulai setelah insiden tragis yang terjadi di Southport, Inggris utara, pada akhir Juli, di mana tiga anak tewas. Kejadian ini memicu munculnya rumor palsu yang menyebutkan pelaku adalah seorang imigran Muslim. Rumor tersebut diperkuat oleh pengaruh publisitas negatif dari tokoh seperti Stephen Yaxley-Lennon, yang lebih dikenal sebagai Tommy Robinson.
Setelah penyelidikan, diketahui bahwa tersangka penyerangan adalah seorang warga negara Inggris berusia 17 tahun yang berasal dari Rwanda. Meskipun identitas pelaku telah terungkap, masjid-masjid dan bangunan yang dianggap sebagai tempat tinggal pencari suaka tetap menjadi target sejumlah mob kekerasan.
Selain kerusuhan tersebut, terjadi pula protes umum terhadap pemerintah yang dinilai tidak mampu mengatasi peningkatan jumlah imigran yang memasuki Inggris. Sekitar enam dari sepuluh warga Inggris menunjukkan simpati terhadap para pengunjuk rasa, sementara delapan persen memberikan dukungan kepada para perusuh.
Dalam seminggu terakhir, para perusuh menyerang pengemudi yang mereka curigai sebagai Muslim, meneriakkan kata-kata rasis, serta merusak usaha yang sering kali tidak ada hubungannya dengan Muslim atau imigran, termasuk kedai roti populer, Greggs.
Pemerintah Buruh yang baru terpilih telah berkomitmen untuk menelusuri dan menuntut pelaku kekerasan tersebut. Untuk mencegah kekacauan lebih lanjut, mereka juga telah meningkatkan kesiapan polisi dengan mengerahkan pasukan khusus anti-kerusuhan.
