Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Inovasi Pengelolaan Sampah di Kabupaten Pasuruan: Gas Metana untuk Memasak

Pengelolaan sampah di Kabupaten Pasuruan telah mencapai langkah yang lebih maju. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan uji coba inovatif dengan mengolah sampah menjadi gas metana yang dapat digunakan untuk memasak. Proyek ini bertempat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo.

Keberhasilan ini ditunjukkan oleh Wakil Bupati Pasuruan, HM. Shobih Asrori, yang mencoba memasak telur ceplok dengan menggunakan api yang dihasilkan dari gas metana pada Rabu, 26 Februari 2025. Dalam waktu kurang dari satu menit, telur tersebut sudah matang dan siap disajikan.

Dalam pernyataannya, Wabup Shobih menyatakan, "Uji coba pengolahan sampah yang menghasilkan gas metana di TPA Wonokerto dinyatakan berhasil. Kini kita tidak perlu lagi menggunakan gas elpiji yang sudah biasa digunakan masyarakat." Pengembangan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada gas elpiji dan memberikan alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Rencananya, setelah uji coba ini, penggunaan gas metana akan diperluas kepada warga sekitar. Menurut Shobih, dropping gas metana ke rumah penduduk direncanakan dapat dilakukan paling lambat pada tahun 2026. "Kita harus memasang jaringan dan peralatan lainnya untuk mendukung distribusinya," jelasnya.

Kepala DLH Kabupaten Pasuruan, Taufiqul Ghony, menjelaskan bahwa gas metana yang dihasilkan diperkirakan akan bisa dimanfaatkan oleh 30 rumah penduduk. Proses awalnya dimulai dengan menimbun sampah dengan tanah setiap tiga bulan sekali. Setelah proses pemisahan melalui filter, gas metana dapat dimanfaatkan.

"Api yang dihasilkan dari gas metana ini kualitasnya tidak jauh berbeda dengan gas elpiji. Warnanya tetap biru dan cepat panas," tambah Taufiqul Ghony, menjelaskan tentang kualitas gas metana yang dihasilkan.

Inovasi ini bukan saja menunjukkan bagaimana pengelolaan sampah dapat diubah menjadi sumber energi yang berguna, tetapi juga mempromosikan kesadaran akan lingkungan yang lebih baik di Kabupaten Pasuruan.