Peristiwa yang terjadi pada bulan Juli menunjukkan adanya benang merah yang menarik di dunia politik. Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, tetap mencalonkan diri meskipun baru-baru ini divonis atas beberapa pelanggaran. Di sisi lain, Kamala Harris, wakil presiden yang dianggap kurang berpengaruh dalam sejarah, kini menjadi kandidat utama Partai Demokrat setelah Joe Biden mengundurkan diri. Hal ini menimbulkan berbagai reaksi dalam dunia politik.
Di tengah situasi ini, Harris secara tiba-tiba digambarkan sebagai sosok jenius politik dan negarawan kawakan. Namun, banyak yang berpendapat bahwa statusnya mirip dengan Dan Quayle, wakil presiden pada masa George H.W. Bush, yang juga dipandang kurang sukses pada awal 1990-an. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah Harris benar-benar siap memimpin Partai Demokrat di tengah tumbangnya Biden?
Sementara itu, di sisi internasional, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menunjukkan kemampuan politik yang mencolok. Dia kembali dari kunjungannya ke AS dan segera memerintahkan serangan di Beirut untuk membunuh seorang komandan senior Hezbollah, serta serangan di Teheran untuk menargetkan kepala biro politik Hamas, Ismail Haniyeh. Dalam waktu singkat, Netanyahu berhasil melancarkan tiga serangan signifikan yang berdampak pada posisi Hezbollah dan Hamas, sekaligus memberikan peringatan kepada pendukung mereka di Teheran.
Langkah ini bisa ditafsirkan dengan dua cara. Pertama, Netanyahu mungkin sedang mempersiapkan rakyat Israel untuk menerima kesepakatan di mana Israel akan mengklaim kemenangan setelah berhasil menghancurkan Gaza dan menewaskan pemimpin Hamas teratas. Kedua, interpretasi yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa Netanyahu sengaja memperburuk konflik untuk mendorong keterlibatan Amerika Serikat sebelum pemilihan presiden Januari mendatang, di mana Trump atau Harris bisa masuk ke Gedung Putih.
Situasi ini menunjukkan bahwa ketegangan internasional dapat sangat dipengaruhi oleh dinamika politik dalam negeri, dan para pemimpin akan melakukan apa saja untuk mempertahankan posisi mereka.
