Seorang jurnalis Al Jazeera, Anas al-Sharif, menggambarkan pengalaman mengerikan ketika menyaksikan temannya, Ismail al-Ghoul, tanpa kepala. Ini merupakan dampak dari serangan udara Israel yang menyasar jurnalis di Gaza, sebuah peristiwa yang sangat memilukan dan menimbulkan banyak pertanyaan tentang perlindungan terhadap jurnalis di wilayah konflik.
Al-Ghoul dan rekan kameramennya, Rami al-Rifi, sedang dalam perjalanan menggunakan mobil yang jelas-jelas bertanda sebagai kendaraan media. Mereka diserang oleh sebuah drone Israel, meskipun mengenakan pakaian yang menunjukkan bahwa mereka adalah jurnalis. Menurut kantor media pemerintah Gaza, kematian mereka menambah daftar panjang jurnalis Palestina yang tewas akibat konflik ini, yang mencapai 165 orang sejak 7 Oktober.
Tapi, sayangnya, berita mengenai kematian jurnalis tersebut seakan menghilang dari perhatian media internasional. Berbeda dengan liputan berlebihan mengenai Evan Gershkovich, seorang jurnalis Wall Street Journal yang baru saja dibebaskan dari penjara Rusia, kematian jurnalis Palestina hampir tidak mendapatkan sorotan sama sekali. Ini menunjukkan adanya ketidakadilan dalam cara berita ditampilkan di media.
Para jurnalis internasional, yang sering mendapatkan manfaat dari kisah-kisah yang berasal dari Palestina, dituding bersikap apatis. Dalam beberapa minggu terakhir, mereka lebih banyak mengeluarkan pernyataan yang hanya mengungkapkan “keprihatinan” tanpa langkah konkret untuk melindungi jurnalis yang berisiko meninggal dunia ketika melaporkan dari Gaza.
Ketidakpekaan ini menjadi perhatian serius, terutama terkait dengan pernyataan yang menyebutkan bahwa "jurnalisme bukanlah sebuah kejahatan". Sementara itu, tindakan nyata untuk melindungi jurnalis di lapangan praktis tidak ada. Ini menggarisbawahi perlunya dukungan yang lebih kuat terhadap jurnalis yang berjuang untuk mendapatkan kebenaran di tengah konflik yang berkepanjangan.
