Wakil Kepala Kedua Staf TNI Angkatan Udara (TRI AU), Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, berhasil menerbangkan pesawat Pangeran Diponegoro II dari Pangkalan Udara Bugis di Malang menuju Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta. Penerbangan ini bukan hanya sebuah perjalanan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya pendidikan di Sekolah Penerbang Maguwo.
Sebelum mengarahkan pesawatnya ke Yogyakarta, Agustinus melakukan putaran di atas kota Malang. Hal ini dilakukan untuk melihat situasi dan memastikan kondisi udara. Setelah itu, ia terbang ke arah barat, melalui kota Semarang dan Solo, yang merupakan kota-kota besar di Pulau Jawa.
Saat pesawat berada di atas kota Semarang, terjadi insiden ketika pesawat Pangeran Diponegoro II ditembaki oleh musuh dari bawah. Namun, dengan keterampilan dan pengalaman, Agustinus mampu menghindari tembakan tersebut dan melanjutkan penerbangan dengan aman. Akhirnya, pesawat berhasil mendarat dengan selamat di Pangkalan Udara Maguwo.
Setibanya di sana, Komodor Udara R. Suryadi Suryadarma, Kepala Staf TRI AU, beserta para kadet penerbang dan teknisi dari pesawat menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Penerbangan ini diiringi oleh tim teknisi, termasuk AS. Hanandjoeddin, M. Oesar, Mustakim, Markarim, dan Matsari, yang ikut berkontribusi dalam keberhasilan penerbangan tersebut.
Pangeran Diponegoro II adalah salah satu pesawat angkatan udara yang digunakan untuk mendukung pendidikan calon penerbang di Indonesia. Dalam konteks ini, pendidikan penerbang sangat penting bagi TNI Angkatan Udara untuk menjaga kedaulatan dan keamanan negara.
Separuh dari pepatah TNI Angkatan Udara yang mengatakan, "Jauh di Langit Dekat di Hati," mencerminkan dedikasi mereka untuk selalu berada di siap siaga menjaga negara, meskipun terbang tinggi di angkasa.
