Angin kencang yang melanda Kabupaten Pasuruan dalam beberapa pekan terakhir berpotensi menimbulkan banyak masalah, salah satunya adalah kebakaran. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) memberikan imbauan kepada masyarakat untuk tidak sembarangan membakar sampah dan benda-benda lainnya.
Imbauan ini disampaikan oleh Kepala Satpol PP Kabupaten Pasuruan, Nurul Huda, dalam sebuah kesempatan pada Kamis, 6 Februari 2025. Ia menjelaskan bahwa masyarakat harus tetap waspada terhadap risiko kebakaran yang dapat meningkat akibat cuaca ekstrem, terutama angin kencang yang dapat memperbesar kobaran api.
"Kami mengingatkan warga untuk tidak sembarangan membakar sesuatu, mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu. Jangan asal membakar apapun saat ini. Jika lalai, api bisa cepat membesar karena angin kencang," ujar Huda.
Huda juga menjelaskan bahwa meskipun saat ini masih dalam musim penghujan, intensitas hujan sudah mulai berkurang dan digantikan dengan angin kencang. Ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Pemerintah Kabupaten Pasuruan telah mempersiapkan langkah antisipasi dengan menyiagakan 50 petugas pemadam kebakaran (Damkar) yang siap siaga untuk merespon laporan kebakaran dari masyarakat. Terdapat juga 6 unit kendaraan pemadam yang siap digunakan.
"Totalnya kita punya 50 petugas damkar. Setiap harinya secara bergantian, enam orang dikali tiga shift untuk membantu jikalau ada kejadian kebakaran di wilayah Kabupaten Pasuruan," tambah Huda.
Dalam beberapa hari terakhir, satu kasus kebakaran dilaporkan terjadi. Kebakaran tersebut terjadi di PT Super Amos Chicken, Desa Kedungboto, Kecamatan Beji pada 27 Januari 2025. Perusahaan itu merupakan pabrik pengolahan ayam potong dan mengalami kerugian lebih dari Rp 1 miliar akibat kebakaran tersebut.
"Selama dua jam, akhirnya petugas berhasil memadamkan si jago merah. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan," jelas Huda.
Dari data yang ada, pada tahun 2024, sebanyak 270 kasus kebakaran terjadi di Kabupaten Pasuruan. Kebanyakan insiden ini melibatkan pembakaran lahan kosong, alang-alang, bambu, serta tumpukan sampah yang pembakarannya disengaja. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membakar sembarangan sangat diperlukan demi mengurangi risiko kebakaran di daerah tersebut.
