Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Intelektual Tradisional Dinilai Mengkhianati Aspirasi Warga

Antonio Gramsci, seorang filsuf asal Italia, dalam bukunya yang berjudul Prison Notebooks menjelaskan pandangannya mengenai intelektual. Ia membagi intelektual menjadi dua kategori: "Organik" dan "Tradisional". Intelektual organik adalah mereka yang aktif berjuang dan berpartisipasi dalam perlawanan masyarakat, sementara intelektual tradisional cenderung memisahkan diri dari kelas sosial dan merasa lebih superior.

Kritik terhadap intelektual tradisional semakin kuat, terutama berkaitan dengan dukungan mereka terhadap revisi Undang-Undang Minerba (UU Minerba). Forum Rektor Indonesia, yang tergolong dalam kategori tersebut, telah menyatakan dukungannya untuk revisi yang dianggap menguntungkan kekuasaan. Revisi ini dilakukan dengan cepat, dan dianggap berpotensi menempatkan perguruan tinggi di bawah tekanan kekuasaan politik.

Menurut berbagai analisis, terdapat indikasi bahwa revisi UU Minerba bertujuan untuk memberikan konsesi tambang kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal ini dilihat sebagai upaya untuk menyenangkan kalangan tertentu, khususnya tim pemenangan Prabowo-Gibran menjelang Pilpres 2024. Dengan langkah ini, banyak pihak mempertanyakan integritas dan komitmen intelektual tradisional dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat yang lebih luas.

Kasus ini menjadi isu penting dalam konteks keadilan sosial dan partisipasi warga. Melalui kritik ini, muncul pertanyaan besar tentang peran intelektual dalam membela kepentingan masyarakat. Apakah mereka akan terus bertindak sebagai pengkhianat atau kembali ke jalur yang seharusnya?