Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Banjir Melanda 8 Kecamatan di Kabupaten Pasuruan, Warga Terpaksa Dievakuasi

Ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor semakin membayangi masyarakat. Di Kabupaten Pasuruan, delapan wilayah kecamatan dilaporkan terendam banjir akibat hujan yang sangat deras. Kecamatan yang terdampak antara lain Pohjentrek, Kraton, Grati, Pasrepan, Gondangwetan, Winongan, Rejoso, dan Beji.

Menariknya, Kecamatan Pasrepan menjadi salah satu daerah yang baru pertama kali mengalami banjir. Dua desa di sana, yaitu Desa Jogoripuh dan Pohgading, kini terendam air. Menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, banjir ini diakibatkan oleh intensitas hujan yang sangat tinggi selama berjam-jam. Hal ini membuat sungai-sungai kecil tidak mampu menampung jumlah air yang besar.

“Bertahun-tahun Pasrepan ini gak pernah kebanjiran, dan sekarang tiba-tiba ada laporan banjir, ya kaget. Tapi harus kita hadapi bersama,” ujar Sugeng saat mempersiapkan bantuan darurat untuk warga di posko BPBD, pada Rabu (29/1/2025).

Banjir terparah tercatat terjadi di Dusun Kebrukan, Desa Kedawung Kulon, Kecamatan Grati. Ketinggian air di kawasan ini bahkan mencapai hampir dua meter pada hari pertama kejadian, meskipun saat ini sudah mulai surut. Namun, air masih menggenangi permukiman warga.

“Paling parah di Dusun Kebrukan, Desa Kedawung Kulon. Hari pertama banjir kemarin sudah mencapai dua meter. Tapi di hari ini sudah mulai surut meski masih menggenangi rumah warga,” jelas Sugeng.

Tidak hanya itu, sebanyak 75 warga dari Dusun Tokwiro, Desa Winongan Lor terpaksa dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Menurut Sugeng, evakuasi dilakukan karena ketinggian air banjir sudah cukup membahayakan jika mereka tetap berada di rumah.

“Kita evakuasi karena kondisi air banjir yang cukup tinggi sehingga berbahaya kalau masih memilih bertahan di rumahnya,” ungkapnya.

Situasi ini menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi, yang dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Masyarakat diharapkan untuk selalu siap dan peka terhadap perubahan cuaca yang dapat berpotensi menyebabkan bencana.