Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Pasuruan Masih Tinggi

Sejak Desember 2024, kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali muncul di Kabupaten Pasuruan. Hingga berita ini ditulis pada tanggal 5 Januari 2025, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan melaporkan bahwa sebanyak 134 sapi di daerah tersebut terinfeksi PMK.

Dari total sapi yang terjangkit, 94 ekor telah dinyatakan sembuh. Sementara itu, 24 ekor masih dalam kondisi sakit dan 16 sapi dilaporkan telah mati. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan, drh Ainur Alfiah, menyatakan bahwa semua sapi yang terinfeksi adalah sapi potong. Sampai saat ini, belum ada laporan mengenai sapi perah yang terkena penyakit ini.

Alfiah menjelaskan bahwa masih tingginya kasus PMK disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah cuaca. Curah hujan yang tinggi setiap hari dapat berkontribusi terhadap penyebaran penyakit ini. Selain itu, kurangnya vaksinasi juga menjadi masalah. Dari populasi sapi potong yang mencapai sekitar 100 ribu ekor, hanya kurang dari 40 persen yang sudah divaksin.

“Harusnya vaksin booster lagi, tapi untuk saat ini vaksin belum ada atau belum dikirim dari Pemerintah Pusat,” ungkap Alfiah. Ia menekankan perlunya tambahan vaksin yang diusulkan kepada pemerintah untuk membantu menanggulangi penyebaran penyakit ini.

Alfiah juga menghimbau kepada para peternak untuk mengisolasi sapi yang sakit atau diduga terjangkit PMK dan segera memberikan pengobatan. Tindakan ini termasuk memberikan antibiotik, vitamin, dan obat-obatan lainnya. Selain itu, penting juga untuk menyemprot lingkungan kandang dan pasar hewan serta melakukan tracing dan surveilans berdasarkan laporan masyarakat.

“Jika kasus semakin meningkat, perhatikan SOP yang baik dan benar sebelum mengamati dan memeriksa hewan,” tutup Alfiah. Dengan perhatian dan tindakan yang tepat, diharapkan penyebaran PMK dapat dicegah lebih lanjut.