Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Bumi Reog Berdzikir: Acara Spiritual Megah di Ponorogo

Pada hari Minggu, 29 Desember 2024, Alun-Alun Ponorogo menjadi lokasi yang penuh keagungan dan spiritualitas. Acara bertajuk "Bumi Reog Berdzikir" mengumpulkan sekitar 60 ribu anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Ponorogo. Mereka berkumpul dengan mengenakan seragam hitam, yang merupakan kebanggaan mereka, sambil melantunkan doa dan dzikir bersama yang dipimpin oleh sembilan Kiai Ponorogo.

Ketua PSHT Cabang Ponorogo, Moh Komarudin, menjelaskan bahwa acara ini memiliki beberapa tujuan penting. Ia menyatakan, "Bumi Reog Berdzikir não hanya memperkuat tali persaudaraan, tetapi juga mengenang para leluhur dan melestarikan tradisi luhur." Selain itu, acara ini juga menjadi ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta serta menjadi refleksi bagi warga PSHT untuk menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang akan datang.

Moh Komarudin menambahkan harapannya untuk tahun 2025, “Semoga di tahun 2025 kita bisa membuka lembaran baru, menjadi sosok-sosok yang lebih baik.” Ini menunjukkan keinginan untuk melakukan perbaikan diri dan pengembangan pribadi di tahun baru.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, hadir dalam acara tersebut dan tidak dapat menyembunyikan kekagumannya terhadap persatuan dan kebersamaan warga PSHT. Ia berharap Bumi Reog Berdzikir dapat menjadi bagian dari kalender acara resmi Kabupaten Ponorogo, dengan pernyataannya, “Bumi Reog Berdzikir ini akan kami masukkan menjadi kalender event Kabupaten Ponorogo dan siapapun Bupatinya harus menjalankan BRB di akhir tahun.”

Kemegahan acara ini juga terlihat dari berbagai pertunjukan seni. Selain dzikir massal, ada penampilan 102 dadak merak, serta puluhan penari jathil dan bujang ganong yang menari dengan indah di tengah-tengah ribuan peserta. Busana kebesaran PSHT yang dikenakan para penari semakin menegaskan rasa bangga mereka akan tradisi dan persaudaraan yang telah terjalin selama ini.