Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Pembersihan Rumpun Bambu di Sungai Keyang oleh Bupati Ponorogo

Pada Senin, 23 Desember 2024, Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, terjun langsung untuk meninjau pembersihan rumpun bambu yang menyumbat aliran Sungai Keyang di Tegalsari, Kecamatan Jetis. Pembersihan ini merupakan upaya untuk mengatasi efek serius dari banjir yang melanda daerah tersebut.

Proses pembersihan itu dilakukan secara gotong royong. Masyarakat setempat bekerja sama dengan personel TNI/Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Provinsi Jawa Timur. Rumpun bambu yang menyumbat aliran sungai dipotong secara manual menggunakan golok dan gergaji mesin, lalu ditarik bersama-sama dengan bantuan tali tambang.

Menurut Bupati Sugiri, "Kerja bakti serentak ini dilakukan sejak bencana banjir terjadi. Namun, rumpun bambu yang menyumbat beberapa jembatan memang membutuhkan waktu lebih lama untuk ditangani." Ia juga menambahkan bahwa karena banyaknya bambu yang sulit ditangani secara manual, alat berat diterjunkan untuk mempercepat proses pembersihan.

“Ratusan orang menarik bambu ini, tetapi tetap membutuhkan alat berat. Masalahnya, jembatan harus cukup kuat untuk menopang ekskavator yang digunakan. Saya berharap keputusan ini tepat dan jembatan mampu menahan beban," tambah Sugiri.

Jamus Kunto, Kepala Dinas PU Ponorogo, menyatakan bahwa upaya penanganan dilakukan dengan cepat untuk mengatasi dampak banjir, termasuk pembersihan aliran sungai dan perbaikan tanggul. Hingga saat ini, tercatat ada 18 titik tanggul yang jebol akibat banjir.

“Dampak banjir ini cukup serius. Setelah pembersihan, kami akan melakukan kajian untuk mengetahui penyebab utama kerusakan, seperti pondasi sungai yang tergerus. Selain itu, tanggul yang berpotensi jebol juga terus dipantau untuk mitigasi bencana,” ungkap Jamus.

Sebagai langkah darurat, tanggul yang jebol sementara ditutup menggunakan sand bag atau bronjong, dengan rencana perbaikan permanen di masa depan. “Dengan kajian mendalam, diharapkan solusi terbaik dapat ditemukan untuk meminimalisir risiko bencana di masa mendatang,” pungkasnya.