Pilkada atau Pemilihan Kepala Daerah yang akan datang kembali menjadi sorotan. Banyak pihak menilai bahwa, saat ini, pilkada bukan lagi hanya sekadar proses demokrasi untuk memilih pemimpin. Sebaliknya, acara ini diangap sebagai ajang bagi para taipan untuk berbagi kekuasaan dengan pengurus publik demi kepentingan bisnis mereka.
Banyak kritik yang mengemuka, terutama tentang kebijakan ekstraktif yang diimplementasikan dalam pemerintahan. Kebijakan ekstraktif adalah langkah yang berfokus pada pengambilan sumber daya alam seperti tambang, nikel, dan batubara tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan. Ini justru menambah utang kerusakan yang harus ditanggung masyarakat, terutama di berbagai wilayah di Indonesia.
Sumber daya alam yang kaya seharusnya digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, yang terjadi adalah pembagian keuntungan antara penguasa dan pihak swasta. Ketidakadilan ini semakin menyakitkan ketika pengorbanan ditujukan kepada komunitas lokal. Mereka yang hidup di sekitar lokasi tambang sering kali harus menghadapi kerusakan lingkungan dan dampak sosial yang buruk, tanpa ada perhatian dan solusi dari pemerintah.
Berdasarkan informasi yang ada, banyak pihak menyuarakan bahwa seharusnya pilkada tidak dijadikan sebagai kesempatan untuk bagi-bagi ‘kue’ bagi elit politik dan pengusaha. Mengatasi masalah ekstraktif yang merusak lingkungan dan sosial seharusnya menjadi prioritas utama. Tanpa langkah untuk memperbaiki situasi ini, ancaman kerusakan lebih lanjut hanya akan terus bertambah.
Melihat isu ini, ada gerakan yang muncul di kalangan masyarakat untuk menolak pilkada yang dinilai tidak adil. Gerakan ini beranggapan bahwa mencoblos pada pemilu yang tidak menguntungkan rakyat hanya akan memperburuk keadaan. Dengan demikian, isyarat kuat untuk memperhatikan isu-isu kritis tentang pemerintahan dan usaha menjaga sumber daya alam pun semakin terang.
Dalam konteks ini, sangat penting bagi setiap individu untuk memahami bagaimana pilihan politik dan kebijakan pemerintah dapat berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari serta lingkungan tempat mereka tinggal.
