Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, saat ini merasakan kebahagiaan. Para petani mangga, khususnya jenis mangga gadung klonal 21, tengah menikmati panen raya. Bulan November ini dianggap sebagai puncaknya musim mangga, di mana buah yang terkenal dengan sebutan mangga alpukat ini hadir di hampir semua pasar buah di Kabupaten Pasuruan.
Sugiono, seorang petani berusia 39 tahun, mengelola kebun seluas 3 hektar yang penuh dengan mangga gadung klonal 21. Ia menjelaskan bahwa dalam sekali panen, ia bisa mengumpulkan hingga 7 kwintal mangga, jika semua pohon dalam kondisi sehat dan berbuah. Sebagai perbandingan, setiap pohon mangga bisa menghasilkan antara 40 hingga 60 kilogram buah.
Sugiono menambahkan bahwa setelah dipanen, semua mangga yang dihasilkan harus segera dipacking untuk dikirimkan ke pelanggan. "Mangga milik saya sangat disukai oleh warga dari Jakarta, Bogor, Sumatera, dan Bali," ujarnya. Ia juga mengatakan bahwa Jakarta dan Bali adalah pasar terbesar bagi mangga gadung klonal 21, yang memiliki tekstur lembut dan kesat, serta bisa diputar seperti mangga alpukat.
Terkait harga, Sugiono menjelaskan bahwa saat panen raya, harga mangga biasanya turun. Contohnya, mangga grade A dijual dengan harga Rp 18 ribu per kilogram, grade B seharga Rp 15 ribu, dan grade BS seharga Rp 10 ribu. Ia menyatakan bahwa grade B adalah yang paling banyak dibeli, karena orang mencari yang manis dan kenyang saat mengonsumsinya.
