Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Pembentukan Skadron II Angkatan Udara Indonesia

Pada tanggal 21 Maret 1951, Kepala Staf Angkatan Udara, Komodor Udara R. Suryadi Suryadarma, mengeluarkan Surat Perintah Nomor 0493/Pr/KSAU/50. Surat tersebut mengatur tentang pembentukan Skadron II sebagai Skadron Angkut. Dalam surat itu, Acting Letnan Udara I Sudarjono juga ditunjuk menjadi Komandan Skadron II. Skadron ini berbasis di Pangkalan Udara Andir, Bandung, yang saat ini dikenal sebagai Pangkalan Udara Husein Sastranegara.

Skadron II dilengkapi dengan pesawat angkut yang diserahkan oleh Angkatan Udara Belanda, termasuk 16 Pesawat C-47A Dakota. Selain itu, terdapat juga 22 pesawat C-47A Dakota bekas Angkatan Laut Belanda dan satu pesawat DC-3 beregistrasi T-482. Pesawat DC-3 ini khusus diserahkan sebagai ganti rugi atas insiden penembakan Pesawat VT-CLA pada 29 Juli 1947.

Setelah pembentukan, pada tanggal 9 April 1951, Skadron II diubah menjadi Djawatan Angkutan Udara. Hal ini diumumkan dalam Pengumuman Nomor 28/11/Ks/51. Djawatan ini akan menggunakan pesawat C-47 Dakota dalam operasionalnya. Tak lama kemudian, dalam Pengumuman Kasau No. 28a/11/Peng/Ks/51 yang dikeluarkan pada 23 April 1951, nama-nama berbagai skadron berubah. Misalnya, Skadron I menjadi Skadron Pembom, dan Skadron II diperuntukkan bagi Skadron Pengangkut Operasional.

Dari tahun ke tahun, Skadron Udara 2 terus diperkuat dan mengalami beberapa perkembangan. Pada tahun 1970, mereka mendapatkan pesawat Fokker F-27 Troopship buatan Belanda untuk menggantikan C-47 Dakota yang mulai menurun kemampuannya. Pada tahun 1980, Skadron Udara 2 berpartisipasi dalam “Operasi Jembatan Udara”. Operasi tersebut dilakukan untuk membantu masyarakat ketika transportasi udara nasional lumpuh karena para penerbang maskapai penerbangan nasional melakukan pemogokan.

Skadron Udara 2 juga memiliki peranan penting dalam misi pencarian dan pertolongan, seperti saat tenggelamnya kapal Tampomas II. Memasuki tahun 2000, Skadron Udara 2 kembali diperkuat dengan tambahan pesawat SF-260 Marcetti untuk mendukung berbagai misi yang dihadapi.