Pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama tiga hari setelah pembunuhan Ismail Haniyeh, seorang pemimpin penting Palestina. Haniyeh tewas di Teheran, yang mengejutkan banyak orang dan menciptakan kekhawatiran akan keselamatan di dalam negeri Iran.
Haniyeh dikenal sebagai tokoh kunci dalam gerakan Hamas, yang terlibat dalam perlawanan terhadap Israel. Ia menginap di dekat istana Saadabad di Teheran saat pembunuhannya terjadi. Kejadian ini menambah tekanan pada lembaga keamanan Iran, yang sebelumnya mengklaim telah membongkar jaringan intelijen Israel, Mossad, di dalam negara mereka.
"Keberadaan infiltrator dalam pembunuhan Ismail Haniyeh tidak bisa dipungkiri," kata Hossein-Ali Haji Deligani, seorang anggota parlemen Iran, menekankan pentingnya menyelidiki kebocoran informasi tersebut. Ia juga menegaskan bahwa Iran akan memberikan balasan yang lebih keras kepada Israel daripada yang dijanjikan sebelumnya.
Pembunuhan ini membuat banyak orang Iran mencurigai bahwa presiden Iran sebelumnya, Ebrahim Raisi, yang meninggal dunia dalam kecelakaan helikopter pada bulan Mei, mungkin juga menjadi korban konspirasi oleh Israel. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpuasan sekaligus keingintahuan yang meluas di kalangan masyarakat Iran.
Dengan situasi ini, perhatian publik kini tertuju pada Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) yang memiliki tugas menjaga keamanan selama acara-acara penting. Haniyeh adalah tamu penting yang seharusnya diberikan perlindungan maksimal. Analisis dari seorang pengamat reformis menilai bahwa kejadian ini mirip dengan kasus pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh, yang dianggap sebagai bapak program nuklir Iran, pada bulan November 2020.
Di sisi lain, kemarahan publik terhadap Israel meningkat. Selain langkah balas dendam dari pemerintah Iran, kelompok Hezbollah, sekutu Iran di Lebanon, mungkin akan meningkatkan ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel. Hamas juga mengancam akan memberikan respons keras setelah kematian Haniyeh.
Situasi ini tentunya menjadi tantangan besar bagi pemerintahan baru Pezeshkian, yang berjanji untuk menyikapi masalah luar negeri dan domestik dengan pendekatan yang lebih lembut dan terbuka.
