Breaking News
KPK Serahkan Aset Rampasan Negara Berupa Tanah kepada Pemerintah Aceh dan Pasuruan     Perkembangan Terbaru Konflik Israel dan Palestina     Mark Ruffalo Menyarankan Cara Presiden Biden Akhiri Kekerasan di Gaza     Kontroversi Pengajaran Sejarah Kolonisasi di Prancis     Anwar El Ghazi Dapat Ganti Rugi dari Mainz Usai Putusan Pengadilan    

Raja Mohammed VI Morocco Mengampuni Jurnalis dan Aktivis Hak Asasi Manusia

Pada hari yang istimewa, Raja Mohammed VI dari Maroko memberikan pengampunan kepada sejumlah jurnalis dan aktivis hak asasi manusia. Pengumuman ini dilakukan pada Hari Takhta, sebuah hari libur publik yang merayakan peringatan resmi naiknya raja ke tahta.

Di antara yang dibebaskan adalah jurnalis-jurnalis terkenal seperti Omar Radi, Soulaimane Raissouni, dan Taoufik Bouachrine. Mereka telah ditahan selama beberapa tahun. Omar Radi yang berusia 38 tahun, dikenal bekerja untuk Middle East Eye. Soulaimane Raissouni, berusia 52 tahun, dan Taoufik Bouachrine yang berusia 55 tahun, sama-sama memiliki kritik yang tajam terhadap pemerintah Maroko.

Sebanyak 2.476 orang menerima pengampunan, termasuk sejarawan dan pembela hak asasi manusia Maati Monjib. Selain itu, nama-nama lain yang juga disebut dalam pengampunan adalah Imad Stitou, Hicham Mansouri, dan Saida El Alami, sebagaimana dilaporkan oleh media lokal.

Omar Radi dan Soulaimane Raissouni ditangkap pada tahun 2020, sementara Taoufik Bouachrine dijebloskan ke penjara pada tahun 2018. Ketiganya menghadapi tuduhan berbagai kejahatan seksual. Radi juga dikenakan dakwaan "mengganggu keamanan internal dan eksternal Maroko," serta menerima dana dari sumber-sumber yang terkait dengan badan intelijen asing.

Mereka semua membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa penangkapan itu adalah bentuk hukuman karena pendapat yang mereka sampaikan. Kasus ini menyoroti isu kebebasan berekspresi di Maroko, di mana banyak jurnalis dan aktivis berjuang untuk menyampaikan kebenaran. Hari Takhta, yang dirayakan setiap tahun, menjadi momen penting untuk refleksi dan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi hak asasi manusia di negara tersebut.